KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
NAMA : FEBBY RAHMADAYANI
NIM : A1C119052
KELAS : REGULER B 2019
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Syamsurizal, M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
VIII. Data Pengamatan
|
Prosedur |
Fungsi Alat Dan Bahan |
Tujuan Prosedur |
Hasil |
|
1.
Di Siapkan
fasa gerak berupa . Larutan CHCl3. NaOh . H2O
perbandingan 16 :6 :1, Larutan Heksena . EtoAC Perbandingan 8 : 2, Larutan
Benzena . EtoAC Perbandingan 8 : 2, Larutan EtoAC/ EOH . H2O Perbandingan 10
: 2 : 1 |
Alat 1.
Kaca penutup :
menutup gelas kimia yang ada agae larutan tidak menguap 2.
gelas ukur
berfungsi sebagai tempat atau wadah untuk suatu reaksi 3.
Plat TLC
berfungsi untuk melihat fasa gerak 4.
Penggaris
berfungsi untuk mengukur nilai rf yang ada pada plat TLC Bahan 1.
Larutan CHCl3. NaOh . H2O perbandingan 16 :6 :1 2.
Larutan Heksena . EtoAC Perbandingan 8 : 2 3.
Larutan Benzena . EtoAC Perbandingan 8 : 2 4.
Larutan EtoAC/ EOH . H2O Perbandingan 10 : 2 : 1 Fungsi
bahan tersebut adalah sebagai fasa gerak |
Untuk mengetahuprinsip kerja KLT |
Bahan
siap diuji |
|
2.
Di Siapkan
plat TLC dengan menggambar sebuah garis dengan jarak 1 cm dari dasar plat
secara lembut dengan menggunakan pensil. |
Untuk
melihat penanda ketika noda bergerak |
Plat
TLC telah siap di gambar |
|
|
3.
Di Siapkan 4
buah plat TLC. Buatlah 4 buah titik dengan jarak masing-masing |
Untuk
diletakkan kedalam masing masing gelas ukur |
Plat
TLC disiapkan 4 buah |
|
|
·
Di totolkan noda pada plat TLC |
Untuk
melihat perubahan gerak noda yang terjadi |
Noda
sudah tertempel pada plat TLC |
|
|
4.
Di letakkan
plat TLC tegak lurus ke dalam fasa gerak. Jangan biarkan plat TLC bergerak
dan terendam karena dapat merusak totolan dan nilai Rf. |
Untuk
melakukan percobaan dan diamati |
Plat
Tlc sudah masuk kedalam gelas ukur |
|
|
5.
Di Amati fasa
gerak yang naik ke atas plat TLC. |
Untuk
melihat fasa gerak yang naik |
Noda
pada plat TLC pelan pelan naik |
|
|
6.
Di ambil plat
TLC apabila fasa gerak telah mencapai jarak 1 cm dari ujung atas plat TLC |
Untuk
mengukur hasil akhir |
Plat
TLC sudah berubah nodanya |
|
|
7. Dibuat garis pada bagian atas batas
pelarut dengan hati-hati menggunakan pensil. Lalu, dibiarkan plat TLC untuk menguapkan
pelarut |
|
Untuk
melihat batas akhir pergerakn noda |
Plat
TLC sudah ditandai |
|
8.
Di letakkan di
bawah lampu UV untuk memvisualisasikan jarak tempuh pelarut. Gambarkan
lingkaran pada setiap noda yang terlihat dengan hati-hati. |
Untuk
memvisualisasikan plat TLC |
Plat
TLC di sinari lampu UV |
|
|
9.
Di ukur noda
menggunakan penggaris |
Untuk
melihat seberapa cm perubahan noda |
Prinsip
kerja kromatografi lapis tipis telah selesai |
IX. Pembahasan
Kromatografi lapis tipis
adalah analisis kualitatif sampel yang akan diuji dengan memisahkan komponen
sampel sesuai dengan perbedaan polaritasnya.
Prinsip kerja berdasarkan adsorpsi dan distribusi, dimana sampel akan
dipisahkan berdasarkan perbedaan polaritas antara sampel dengan pelarut yang
digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fasa diam berupa pelat silika gel,
dan menyesuaikan fasa gerak sesuai dengan jenis sampel yang akan dipisahkan.
Semakin dekat polaritas antara sampel dan eluen, semakin banyak sampel yang
diambil fasa gerak.
Fase diam (adsorben), misalnya silika gel (asam silikat), alumina
(alumina), tanah diatom (tanah diatom) dan selulosa. Diantara keempat jenis
adsorben yang paling banyak digunakan adalah silica gel, setiap jenis adsorben
terdiri dari beberapa jenis dan memiliki nama merek yang berbeda.Silika gel ini
menghasilkan suatu perbedaan dalam efek pemisahan yang tergantung kepada cara
pembuatannya.
Pada percobaan ini dilakukan analisis
kuantitatif dengan metode kromatografi lapis tipis. Sampel yang dianalisis yaitu
pembanding berupa
1.
Larutan CHCl3. NaOh . H2O perbandingan 16 :6 :1
2.
Larutan Heksena . EtoAC Perbandingan 8 : 2
3.
Larutan Benzena . EtoAC Perbandingan 8 : 2
4.
Larutan EtoAC/ EOH . H2O Perbandingan 10 : 2 : 1
Fungsi
bahan tersebut adalah sebagai fasa gerak
. Setelah
eluen jenuh, larutan kontras terlihat pada permukaan pelat, dan pelat KLT
digunakan dalam percobaan ini. Sebarkan dengan jarak 1 cm dari dasar silika
gel. Setelah pembotolan, masukkan pelat TLC ke dalam botol eluen. Tunggu
beberapa menit, angkat dan keringkan. Paparkan pelat TLC ke sinar ultraviolet
254 untuk melihat bintik-bintik untuk mendapatkan nilai Rf. Lingkari
titik-titiknya, lalu hitung jarak dimana zat terlarut dikurangi penyebarannya
oleh pelarut, lalu hitung dengan membandingkan kedua jarak tersebut.
X. pertanyaan
1.
Bagaimana menurut anda jika setelah di
sinari UV totolan tidak terlihat ?
2.
bagaimana hasil akhir dari video yang
telah di amati ?
3.
apakah ada cara lain selain dari video
untuk menghitung nilai Rf ?
XII. Kesimpulan
1.
Kromatografi lapis tipis adalah analisis kualitatif sampel yang
akan diuji dengan memisahkan komponen sampel sesuai dengan perbedaan
polaritasnya.
2.
Prinsip Kromatografi Lapis Tipis yaitu pemisahan senyawa multi
komponen dengan menggunakan dua fase yaitu fase diam dan fase gerak.
XII. Daftar Pustaka
Alen, Y., Agresa, F. L., & Yuliandra, Y. (2017). Analisis
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Aktivitas Antihiperurisemia Ekstrak Rebung
Schizostachyum brachycladum Kurz (Kurz) pada Mencit Putih Jantan. Jurnal Sains
Farmasi & Klinis, 3(2), 146-152.
Danisa,
2015, kromatografi lapis tipiahttps://danisarahmaw.blogspot.com/2015/12/kromatografi-lapis-tipis-klt.html Diakses pada tanggal 20 April 2021.
Pratiwi,
2015, kromatografi lapis tipis http://uphypratiwi.blogspot.com/2015/05/kromatografi-lapis-tipis.html Diakses pada tanggal 20 April 2021.
Risca, 2018, MAKALAH KROMATOGRAFI LAPIS
TIPIS (KLT) http://seputarkimiaku.blogspot.com/2018/11/makalah-kromatografi-lapis-tipis
klt.html#:~:text=Kromatografi%20lapis%20tipis%20merupakan%20jenis,logam%2C%20atau%20lapisan%20yang%20cocok.
Diakses pada tanggal 20
April 2021.
Yuda, P. E. S. K., Cahyaningsih, E., &
Winariyanthi, N. P. Y. (2017). Skrining fitokimia dan analisis kromatografi
lapis tipis ekstrak tanaman patikan kebo (Euphorbia hirta L.). Jurnal
Ilmiah Medicamento, 3(2), 61-70.

Perkenalkan nama saya Elseria Afriyanti Togatorop, NIM: A1C119071 Akan menjawab pertanyaan no 3
BalasHapusnilai Rf dapat ditentukan dari hasil perbandingan jarak tempuh noda dengan jarak tempuh pelarut.
Perkenalkan nama saya Gudtina Romarti Fajrin (A1C119053) Akan menjawab pertanyaan febby yan no.1
BalasHapusPasti terlihat, jika noda tersebut sudah terelusi oleh fase gerak nya pasti akan terlihat oleh lampu UV karena pada prinsip nya lampu UV akan menyinari noda bekas pelarut yang akan menghasilkan cahaya tampak yang bisa kita lihat. Jikalau pun tidak terlihat noda maka itu mungkin disebabkan karena kerusakan alat UV Light tersebut
baikla, saya Putri Mayang Sari NIM A1C119056 akan menjawab soal no. 2 yakni hasil akhir dari percobaan ini setelah Setelah pentotolan, dan kemudian dimasukkan pelat TLC ke dalam botol eluen. Tunggu beberapa menit, angkat dan keringkan. Paparkan pelat TLC ke sinar ultraviolet 254 untuk melihat bintik-bintik untuk mendapatkan nilai Rf. Lingkari titik-titiknya, lalu hitung jarak dimana zat terlarut dikurangi penyebarannya oleh pelarut, lalu diperoleh hasil dengan membandingkan kedua jarak tersebut.
BalasHapus