REAKSI-REAKSI HIDROKARBON
NAMA : FEBBY RAHMADAYANI
NIM : A1C119052
KELAS : REGULER B 2019
DOSEN PENGAMPU :
Dr. Syamsurizal, M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2021
I
Judul : Reaksi reaksi hidrokarbon
II Hari, Tanggal : Senin, 13 Maret 2021
III Tujuan :
1.
Untuk mengetahui
sifat sifat senyawa hidrokarbon
2.
Untuk mengetahui
reaksi reaksi yang terjadi pada hidrokarbon
IV Landasan
Teori
Senyawa hidrokarbon selain senyawa
hidrokarbon jenuh, hidrokarbon tak jenuh juga telah ditemukan. Senyawa
hidrokarbon tak jenuh dengan ikatan rangkap rumus molekul CnH2n disebut alkena,
dan senyawa hidrokarbon tak jenuh dengan ikatan rangkap tiga dengan rumus
molekul CnH2n-2 disebut alkuna. Contoh olefin dengan n = 2 adalah C2H4 (
Fessenden, 1992)
Hidrogenasi adalah reaksi pengurangan mengarah ke
tambahan atom hydrogen (Dapat digunakan sebagai H2). Tanggapan tersebut
meliputi terjadi pada reaksi adisi penambahan atomik. Bisa hidrogenasi adalah senyawa yang hilang jenuh
(tidak jenuh), yaitu gugus alkena Dan alkuna. Tambahkan hidrogen di dalamnya Senyawa
akan ditambahkan ke level kejenuhan. ( candra 2013 )
Melalui reaksi dehidrasi, isoamyl alcohol akan
diubah menjadi hidrokarbon tak jenuh yaitu olefin. Senyawa ini dapat
dihidrogenasi untuk menghasilkan hidrokarbon jenuh, dan reaksi selanjutnya juga
dapat dilakukan pada permukaan katalis untuk menghasilkan senyawa siklik,
seperti siklopentana. Bilangan oktan senyawa ini juga sangat tinggi, sehingga
mungkin seperti isopentana ( Abdullah, 2002).
Hidrokarbon
adalah suatu senyawa organik yang hanya terdiri dari karbon (C) serta hidrogen
(H). Hidrokarbon dibedakan menjadi tiga jenis utama: hidrokarbon jenuh,
hidrokarbon tak jenuh, dan hidrokarbon aromatik. Hidrokarbon jenuh hanya
memiliki satu ikatan CC, sedangkan hidrokarbon tak jenuh memiliki satu atau
tiga ikatan CC. Hidrokarbon aromatik merupakan senyawa siklik dengan sifat
kimia sebagai berikut: benzena. Hidrokarbon jenuh (alkana dan sikloalkana) relatif
inert dan sulit bereaksi dengan reagen biasa. Hidrokarbon tak jenuh (alkena dan
sikloalken) dapat mengalami reaksi adisi dan oksidasi. Benzena dan senyawa
aromatik lainnya tidak bereaksi secara terpisah, tetapi dapat diganti dengan
mengganti satu atom atau sekelompok atom lain untuk atom hidrogen. Dalam
larutan karbon tetraklorida atau sikloheksana, hidrokarbon tak jenuh bereaksi
cepat dengan brom. Reaksinya adalah dengan menambahkan brom ke cincin karbon
bisiklik. Alkena (bukan alkana atau aromatik) bereaksi dengan Br2 untuk
menghasilkan alkil bromida (atau dibromalkana) yang sesuai. Ketika Br2 bereaksi
dengan alkena, warna kuning / jingga dari Br2 akan hilang, dan hasil reaksi
bromoalkana biasanya tidak berwarna. Reaksi
dengan Kalium Permanganat (KMnO4) Kalium permanganat adalah
oksidan, yang dapat bereaksi dengan hidrokarbon tak jenuh, tetapi tidak dengan
alkana atau aromatik. Larutan KMnO4 yang diencerkan berwarna ungu tua, jika
tidak ada reaksi, tidak akan berubah. Ketika KMnO4 bereaksi dengan hidrokarbon
tak jenuh, endapan coklat MnO2 terbentuk. ( Yossel, 2017)
Hidrokarbon alifatik terbagi menjadi tiga jenis yaitu alkana,
alkena dan alkuna. Alkana adalah sejenis hidrokarbon alifatik yang semuanya
merupakan ikatan tunggal. Contohnya adalah propana (C3H8) metana (CH4), dan etana (C2H6) . Dari ketiga
contoh senyawa tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwasanya bagian terakhir senyawa alkana adalah –ana.
Rumus umum alkana adalah sebagai berikut:
CnH2n +
2
Alkena, juga dikenal sebagai olefin, adalah hidrokarbon dengan
dua ikatan rangkap. Olefin dan olefin memasuki hidrokarbon alifatik tak jenuh.
Bagian terakhir dari senyawa olefin adalah –ena. Rumus umumnya adalah sebagai
berikut:
CnH2n
Alkena atau asetilena
adalah hidrokarbon dengan ikatan rangkap tiga. Bagian terakhir dari senyawa
Alkuna adalah -una. Anda dapat melihat rumus umum berikut ini:
CnH2n -
2
Hidrokarbon
aromatik paling sederhana adalah benzena (C6H6). Senyawa ini diperoleh dari
degradasi kimiawi getah benzen, dan memiliki aroma yang dipancarkan dari pohon.
Selain itu, ada toluena (C6H5CH3), yang berasal dari zat di pohon Amerika
Tengah dan biasa digunakan dalam wewangian. Meski baunya tidak enak, kedua
senyawa ini menghasilkan aroma. Oleh karena itu, istilah aromatik diartikan
sebagai senyawa yang diturunkan dari benzena. Ikatan yang mengandung cincin
disebut cincin benzen, dan ikatan yang tidak mengandung cincin disebut ester
asam non-benzoat. ( Maulia, 2021)
V.
Alat dan bahan
5.1 Alat
1.
Pipet tetes
2.
Sudip
3.
Gelas ukur
4.
Tabung reaksi
dan rak
5.
Lumpeng dan alu
5.2 Bahan
1.
Naftalena
2.
Paraffin
3.
Minyak jelantah
4.
Minyak goreng
5.
Pertalite
6.
KMnO4
VI. PROSEDUR KERJA
Tabung
Reaksi dan rak
Tabung
1
Ø Di ambil minyak goreng 1 ml menggunakan pipet tets
Ø Di masukkan kedalam gelas ukur
Ø Di masukkan kedalam tabung reaksi
Ø Di tambahkan 5 tetes larutan KMnO4 kedalam minyak goring
Ø Digoncang tabung agar merata
Ø Di gocang selama 2 menit
Hasil pengamatan
Tabung 2
Ø Di ambil minyak jelantah 1 ml menggunakan pipet tets
Ø Di masukkan kedalam gelas ukur
Ø Di masukkan kedalam tabung reaksi
Ø Di tambahkan 5 tetes larutan KMnO4 kedalam minyak goring
Ø Digoncang tabung agar merata
Ø Di gocang selama 2 menit
Hasil pengamatan
Tabung 3
Ø Di ambil parafin 1 ml menggunakan pipet tets
Ø Di masukkan kedalam gelas ukur
Ø Di masukkan kedalam tabung reaksi
Ø Di tambahkan 5 tetes larutan KMnO4 kedalam minyak goring
Ø Digoncang tabung agar merata
Ø Di gocang selama 2 menit
Hasil pengamatan
Tabung 4
Ø Di ambil pertalite 1 ml menggunakan pipet tets
Ø Di masukkan kedalam gelas ukur
Ø Di masukkan kedalam tabung reaksi
Ø Di tambahkan 5 tetes larutan KMnO4 kedalam minyak goring
Ø Digoncang tabung agar merata
Ø Di gocang selama 2 menit
Hasil pengamatan
Tabung 5
Ø Di ambil
naftalen lalu haluskan dengan lumpeng dan alu
Ø Di ambil naftalena 1 ml menggunakan sudip
Ø Di masukkan kedalam gelas ukur
Ø Di masukkan kedalam tabung reaksi
Ø Di tambahkan 5 tetes larutan KMnO4 kedalam minyak goring
Ø Digoncang tabung agar merata
Ø Di gocang selama 2 menit
Hasil pengamatan
Untuk lebih jelasnya mengenai reaksi reaksi
hidrokarbon anda dapat melihat video
berikut :
Reaksi reaksi hidrokarbon: https://youtu.be/corK32rU-84
Permasalahan :
1.
Selain KMnO4
adakah senyawa lain yang dapat mengidentifikasi senyawa hidrokarbon ?
2.
Apakah berpengaruh
ketika menetskan KMnO4, bagaimana jika tetesan kita kurangkan atau kita
lebihkan ?
3.
Mengapa naftalen
perlu dihaluskan dan apabila tidak dihaluskan apakah bisa mengetahui reaksi
hidrokarbon yang terjadi ?

Baiklah saya Sindi Permata Sari Nim A1C119064, saya ingin menjawab pertanyaan feby no 3, fungsi dari penghalusan nafatalen agar mempermudah memasukkan ke dalam tabung reaksi, bukan itu saja fungsinya adalah agar mempercepat suatu reaksi tersebut sehingga mempermudah untuk mengidentifikasi dari senyawa tersebut, jika tidak menghaluskan kita bisa saja mengetahii senyawa yang terkadung dengan menambahkan naflena kedalam air, sehingga nanti kita bisa memperoleh hasil hidrokarbon tersebut.
BalasHapusBaiklah,saya Esra Oktapriani gultom (A1C119059) akan menjawab pertanyaan no 2. Apabila tetesan KMnO4 kita kurangkan atau dilebihkan maka hasil dari percobaan tersebut tidak akan akurat atau bahkan bisa saja gagal,jadi dalam percobaan ini kita harus meneteskan KMnO4 nya sesuai takaran atau sesuai dengan prosedurnya
BalasHapusBaiklah perkenalkan saya
BalasHapusNama: Erina Shafura
Nim: A1C119068
Izin menjawab pertanyaan no 1
Untuk mengidentifikasi senyawa hidrokarbon Selain dengan senyawa KMnO4 terdapat senyawa lain yang dapat digunakan yaitu asam sulfat (H2SO4). Selain itu dapat juga dengan menggunakan uji bromin